Selamat Datang di Blog Wisata Sangihe Ayo ke Sangihe Negeri yang penuh dengan Pesona Mari Jaga dan Nikmati Keindahan Alam Sangihe, Lestarikan Kekayaan Budayanya juga nikmat Kulinernya

Tenun Koffo


Bahasa  daerah Sangihe diklasifikasikan  dalam dua tingkatan. Oleh para budayawan lokal, bahasa tersebut dikelompokan dalam  dua  bentuk yaitu bahasa “sasahara” yang pada saat ini dikenal sebagai “bahasa sastra”   dan bahasa “sasalili” bahasa  yang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kata “koffo” dikelompokkan sebagai  bahasa “sasahara” yang sama dengan kata “hotê”  dalam  bahasa sangihe sehari-hari atau “rote” dalam  bahasa tountembouan. Hote  adalah  salah satu  jenis spesies pisang yang banyak tumbuh dikepulauan sangihe. Cut Karamil Wardhani dan Ratna Panggabean dalam  buku  berjudul Tekstil (2005) menjelaskan  bahwa  pisang-pisangan  ini  dari marga musa textilis atau musa mindanensis yang  juga dikenal dengan  nama Manila Hemp.
Pisang Hote adalah salah satu tanaman  penting dalam  kehidupan suku Sangihe. Selain digunakan sebagai  bahan  dasar  tenun juga  digunakan sebagai tali yang dipadu dengan tali ijuk dalam  pembuatan rumah tradisional rumah ikat atau  wale iki. Dimasa lalu sering  digunakan juga dalam aktifitas kehidupan  nelayan. 
Sampai  saat  ini belum  ada pakar  yang bisa  menjelaskan, kapan  jenis pisang  hote  mulai  dikembangkan  sebagai salah satu  tanaman  utama di  kepulauan  sangihe. Populasi  tumbuh  tanaman   ini tersebar mulai  dari  kepulauan  Philipina bagian selatan  sampai dikepulauan  Sangihe. Tumbuhan   ini dapat ditemui disemua kampung dikepulauan Sangihe dan Talaud terutama di pulau – pulau besar seperti pulau Karakelang di Kabupaten kepulauan Talaud, Pulau Sangihe,Pulau Nipa  dan sekitarnya di kepulauan Sangihe, Pulau Siau dan Taghulandang di kepulauan Sitaro. Persebaran terbesar di Pulau Sangihe yaitu  didaerah bekas wilayah kerajaan Tabukan dan  daerah bekas wilayah kerajaan Manganitu. Menjelang akhir  tahun 1800,  oleh  pemerintah Belanda yang berkedudukan di Tabukan melarang dan kemudian memusnahkan  pisang  hote dibasis  tanaman  hote  lalu diganti dengan  tanaman  kopi dan kapas. Meskipun  sudah  diupayakan pemusnahan  oleh pemerintah Hindia Belanda,  pisang tersebut  masih tetap ditanam oleh  masyarakat  karena tidak  ada   tanaman lain yang dapat  dijadikan pengganti  bahan dasar  pembuatan  kain. 

Teknik tenun  koffo  menggunakan teknik tenun  tradisional yang dikenal  sebagai tenun lungsi. Teknik  tenun  seperti  ini dikelompokkan sebagai teknik tenun ikat. Alat  tenun yang  digunakan sangat sederhana dengan  cara diikatkan melingkar dari depan perut ke belakang.

Cara  pengolahan  bahan  dilakukan  secara  bertahap mulai   dari memotong  batang  pohon  pisang dengan  ukuran  yang  berfariasi, memisahkan  bagian  luar dan  dalam, membuat  pita-pita kemudian di haluskan  sesuai  kebutuhan. Untuk  membuat  batang  pisang menjadi benang-benang  halus  menggunakan alat  seperti garfu dari  bahan bambu.

Tenun Sangihe  menghasilkan  beberapa  bentuk  karya yang dibedakan  berdasarkan  fungsinya seperti alas lantai  dengan  fungsi  seperti  tikar untuk tempat duduk, pembatas  ruangan  atau tirai, kain untuk dijadikan pakaian, sapu tangan dan selendang. Dimasa lalu,  ruang-ruang dalam rumah  tradisional sangihe hanya dibatasi dengan tirai dari kain  koffo. Dari  beberapa  karya  tenun koffo,  yang  paling sering diproduksi  adalah kain  untuk dijadikan  pakaian. Kain  dalam  bahasa  sangihe disebut “kahiwu” sedangkan  aktifitas menenun di namakan “mengahiwuang”.  Setelah diproduksi  menjadi  benda  pakai,  karya  tenun kemudian  menjadi  bagian  penting  dari aktifitas  kebudayaan  sangihe.  Kain  dalam  tradisi  Sangihe dibedakan  penggunaannya berdasarkan  status  social. Secara  umum  strata  social  masyarakat dikelompokan  berdasarkan  tingkatan seperti : Raja, Bangsawan, Rakyat dan Budak, dari  penggunaan  pakaian  akan  terlihat  status  masyarakat.

Suku Sangihe  mengenal pewarna kain seperti ungu, merah, dan coklat.  Ungu  dan  kecoklatan diambil  dari akar  dan batang pohon mengkudu (bhs sangihe seha), akar dan batang pohon mangroove (bhs sangihe pahepa).  Diawal  tahun 1900 suku  sangihe mulai menggunakan  pewarna kuning  dari bahan kunyit, hijau  dari dedaunan dan  merah  dari buah  kesumba. Kain koffo terdiri  dari  dua bentuk  yaitu koffo bermotif dan  tanpa  motif,  koffo  bermotif  digunakan  dikalangan  bangsawan  sedangkan  tidak bermotif digunakan oleh orang  yang  bukan  bangsawan.

Dalam  sastra   lisan sangihe  banyak  mengungkap  cerita   yang  berhubungan  dengan kain seperti kisah Sese Madunde, kisah  perjalanan raja  Tabukan ke Philipina  menggunakan saputangan sebagai perahu, kisah menghilangnya  upung Bawelle  dengan menggunakan “umbe” (ikat kepala) sebagai  perahu di  pantai Naha, kisah  upung  wuala  dengan  ikat  kepala  kain merah. Semua  kisah  tersebut  menunjukan bahwa  suku sangihe  sudah  mengenal  penggunaan  kain  sejak  masa lalu.

Diawal  tahun 1900,  serat hote  diperdagangkan  dipasar antar pulau  ke Pilipina  dipasar kerajaan  Tabukan. Dikisaran  tahun  1926   kerajaan   Tabukan  diundang  oleh  pengusaha  kaya  dari  Manado untuk memamerkan  kain koffo. 

Tahun 1927 kerajaan  Tabukan  memamerkan karya  kain  tenun koffo di Istana  Sultan  Surakarta  dan mendapatkan  penghargaan  Erediploma  oleh  pemerintah  Hindia Belanda. Kemudian  secara   berangsur-angsur kerajinan  tenun koffo  mulai  hilang. Tahun 1979 adalah  tahun terakhir pemunculan  koffo dipublik dengan mempergelarkan tenun  koffo di Jogya  oleh pengrajin  bernama Ibu Makatengkeng Rodingan. Meskipun bahan baku hote masih ada,  alat-alatnya masih bisa diproduksi, pengrajinnya  masih ada tetapi  pengrajin  tidak  lagi memproduksi  kain  karena  tidak   ada dukungan pemerintah  daerah untuk memproduksi  bahkan memasarkannya. Pewarisan koffo  mulai  hilang sejak dimusnahkannya  hote oleh  pemerintah  Belanda.
Pengrajin koffo
 Ragam  hias  yang  digunakan pada  kain koffo  teradaptasi  dari  keadaan  alam yang filosofinya  saling berhubungan  dengan  budaya  lain  di Sangihe. Seperti budaya  musikalitas  oli yang memiliki   bentuk  lagu  yaitu  lagung sonda, duruhang, bawine, dan sasahola. Beberapa bentuk  ragam hias sangihe  sejak  masa  purba  sampai  awal tahun 1900.

Sumber: Sangihepirua.blogspot.co.id

0 comments: