Selamat Datang di Blog Wisata Sangihe bersama saya Stevenly Takapaha, Ayo ke Sangihe Negeri yang penuh dengan Pesona Mari Jaga dan Nikmati Keindahan Alam Sangihe, Lestarikan Kekayaan Budayanya juga nikmat Kulinernya
Showing posts with label Wisata Budaya. Show all posts
Showing posts with label Wisata Budaya. Show all posts

Musik Bambu | 13 Oktober 2018

Musik Bambu | 13 Oktober 2018





Festival Tabadine Sangihe


Festival Tabadine di Kampung Tawoali Tahun 2017 Photo by Stenly Pontolawokang
Fesrival Tabadine di kampung Bakaleng Tahun 2016 Photo by gemparnews.com
Tabadine adalah singkatan dari Tawoali Bakalaeng Pedine tiga kampung di kecamatan manganitu yang berdekatan dengan kota Tahuna. Festival Tabadine adalah festival seni dan budaya yang mengangkat budaya lokal masyarakat setempat. isi kegiatan berupa sarasehan, lomba olahraga/permainan tradisional, kreaifitas anak dan pagelaran seni dan budaya. kegiatan ini dimulai pada tahun 2016 dan akan dadakan tiap tahun disetiap penghujung bulan april. (syarta)

Atraksi pawai perahu nelayan di Teluk Tawoali Photo by Vejun Sagemba
Photo by Vejun Sagemba


Kerawang Batunderang

Kerajinan Kerawang Khas Batunderang Sangihe
Kerawang merupakan kerajinan tangan berupa anyaman di kain yang dikerjakan oleh para wanita Batunderang. Mengerawang merupakan kegiatan warisan turun temurun di Batunderang sejak dahulu. Kesenian ini membutuhkan tingkat ketelitian dan ketelatenan yang tinggi. Kerawang Batunderang memiliki kaualitas yang sangat baik sehingga awet dan tahan lama dengan berbagai pemakaian. berbagai komoditas yang dibuat antaralain taplak meja, sprei, sarung bantal dan guling, baju, juga kreasi lain yang dapat dipesan sesuai dengan keinginan. Kerawang Batunderang merupakan satu-satunya di Sangihe dan dapat menjadi pilihan buah tangan khas jika datang di Sangihe

Tanjung Tinumpaeng

Ilustrasi melompat ke Laut [Photo by Kaskus.co.id]

Disebelah selatan tanjung Kalinda dimana di dalam teluk itu ada Desa Kalinda, terdapat tanjung yang bernama Tinumpaeng. Tempat itu termasuk wilayah Kecamatan Tamako Kabupaten Kepulauan Sangihe saat ini. Tanjung tersebut keadaanya curam, laut dipinggirnya dalam dan tidak mempunyai pantai. Oleh sebab itu bilamana perahu lewat ditanjung itu, dekat sekali. Terutama disaat laut teduh.

Adapun asal mulanya nama tanjung tersebut, ikutilah ceritanya yang diceritakan oleh orang-orang tua secara turun temurun. Pada zaman dahulu kira-kira abad 16, 17, dan 18 ada kebiasaan dari suku bangsa Mindanau dan suku bangsa Sulu (Philipina), yaitu mereka sering berlayar didaerah sekitarnya termasuk pulau Sangihe. Adapun maksud mereka ialah sebagai bajak laut, yaitu merampok harta benda dari perahu-perahu orang yang ditemuinya.  Kalau anak buah perahu yang di temui mangadakan perlawanan, mereka tidak segan-sagan membunuhnya. Sehingga sering terjadi pertempuran diantara mereka. Sudah tentu korban terbunuh dan luka-luka selalu ada diantara kedua belah pihak. Selain itu mereka juga menculik dan menawan orang-orang yang ditemuinya, baik laki-laki maupun perempuan dengan maksud dijadikan budak ditempat mereka.

Sekali peristiwa, ada sebuah perahu bajak laut yang melewati pesisir sebelah Barat pulau Sangihe besar. Perahu bajak laut tersebut masuk dan menyusur dari bagian utara dan terus menuju ke Selatan. Jadi mereka menyusur dari pesisir Kendahe, Kolongan, Tahuna dan terus menuju pesisir Manganitu. Sesudah melewati teluk Manganitu, mereka menyusur agak dekat dengan pantai, melewati Paghulu, Kauhis, Sesiwung, Lebo, Belengang dan sampai ditanjung Bulude. Di pesisir antara Paghulu dan Belengang, Bajak laut tersebut berhasil mengejar dan menangkap seorang nelayan yang sedang mengail sendiri. Nelayan itu ditangkap dan disuruh duduk ditengah-tengah mereka, supaya tidak gampang melarikan diri. Kemudian mereka bertanya tentang nama nelayan itu. Nelayan itu menyahut dan menyebut namanya : “Tabang”.
Sementara Tabang duduk di tengah rombongan  bajak laut tersebut, ia tidak begitu takut. Ia merasa tenang sambil berpikir dengan cara dan tipu muslihat bagaimana ia dapat melepaskan diri dari cengkraman bajak laut tersebut. Akhirnya ia mendapat akal, katanya didalam hati, baiklah saya melagukan Dadung (Sasambo); “Tabang tinumpa, Tabang tinumpa, Tabang tinumpa”. Artinya : “ si Tabang Terjun, si Tabang terjun, si Tabang terjun”. Dadung (Sasambo) tersebut dilagukan berkali-kali, sampai kelihatan rombongan bajak laut tersebut merasa jenuh dan tidak memperhatikan dia lagi.

Kira-kira sementara melewati tanjung Bulude, ia mulai melagukan Dadung (Sasambo) tersebut ; “Tabang tinumpa, Tabang tinumpa, Tabang tinumpa”. Setelah selesai melagukan pertama kali, ia berhenti sejenak. Perahu bajak laut tersebut terus meluncur ke selatan melewati teluk Barangkalang, tanjung Lelapide. Sementara itu si Tabang sudah 2 atau 3 kali melagukan Dadaung (Sasambo) yang syairnya tetap itu juga. Kemudian mereka melewati teluk Nagha II, tanjung Kapehetang dan masuk ke teluk Tamako. Si Tabang tetap melagukan Dadung (Sasambo) dengan nada naik turun dan suaranya yang merdu. Kelihatan rombongan bajak laut sudah kurang memperhatikan si Tabang, sebab menurut perkiraan mereka bahwa itu sudah menjadi kebiasaan si Tabang.
Dari teluk Tamako mereka melalui tanjung Hesang, tanjung Sahang dan terus memasuki teluk Kalinda. Sementara itu si Tabang dengan teliti melihat tempat tanjung mana ia dapat dengan segera terjun, lalu menyelam ke darat dan langsung melarian diri. Sekarang mereka makin mendekati tanjung Tinumpaeng tersebut, lepas dari teluk Kalinda yang agak lebar tersebut melewati tanjung Bolang lalu mendekati tanjung Tinumpaeng tersebut. Melalui tanjung itu, perahu mereka sangat dekat dengan pinggir tanjung, sebab air lautnya dalam, apalagi waktu itu cuacanya baik dan lautnya teduh. Sementara hendak melalui tanjung itu, si Tabang kembali melagukan Dadung atau Sasambonya dan tepat dipertengahan tanjung itu, si Tabang secepat petir terjun ke laut, lalu dengan cepat menyelam ke pinggir tanjung dan terus naik ke tanjung. Kemudian ia memegang pohon pandan yang ada di atas/pinggir hutan dan terus masuk ke dalam hutan.

Rombongan bajak laut itu sampai terkejut, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa, sambil melihat si Tabang dengan cepat naik ke tanjung dan masuk kedalam hutan. Kemudian perahu bajak laut itu terus menuju ke Selatan, dan meneruskan maksud dan tujuan mereka.

Si Tabang segera melewati perkampungan seperti Kalinda, Menggawa, dan seterusnya untuk kembali ke tempat tinggalnya. Ditengah jalan ia selalu ditanyai orang-orang yang di temuinya, dari mana ia berjalan tergesa-gesa itu. Ia menceritakan peristiwa penculikan bajak laut atas dirinya, namun ia dapat terjun dan menyelam dan naik di tanjung yang punggirnya curam itu.
 Sejak peristiwa itu sampai sekarang ini penduduk sekitarnya, menamai dan menyebut tanjung itu “Tanjung Tinumpaeng” yang artinya “tempat terjun”.

(2007. sumber : Renesius Timbul)

Kerajinan

Kerajinan Sekolah kolaborasi  dengan  Sanggar  Apapuhang  Lenganeng 1. SMP Neg. 5 Tabukan Utara. Bahan kerajinan ini dibuat dari bambu dan pasir.







[sumber: http://talaud-ecotourism.blogspot.co.id/2015/04/kerajinan-saudara-kita-di-sangihe.html#more]

Sangihe Tempo Doeloe

Sangihe khususnya Kota Tahuna pernah berjaya di seantero Sulawesi utara dan sulawesi tengah dengan mengelar ivent Porda II se-Sulawesi utara dan tengah.. dengan membangun Stadion Santiago yang kala itu menjadi Stadion terbesar di Indonesia timur.



Kerajinan Batu Akik Asli Sangihe

Kerjainan batu akik Sangihe berada di Kelurahan manente

 

Tari Salo

Salo/Sumalo adalah nama tari tertua di daerah Nusa Utara (Sangihe), lahir pada permulaan abad ke 14, berasal dari

RM. Selera Minahasa

Suka yang Pedas-pedas?, jangan ditanya selera Minahasa adalah solusinya. rumah makan ini berlokasi di Pertigaan Honda Dumuhung

Masamper


Kata Masamper berasal dari kata zangvereniging (bahasa belanda), yang berarti paduan suara masyarakat. Ada juga yang menyebutnya berasal dari kata zang vrij yang berarti menyanyi bebas. Tradisi ini adalah bagian dari budaya masyarakat etnis Sangihe-Talaud. Keberadaannya tidak lepas dari proses penginjilan yang dilakukan oleh para Zending (misionaris Kristen dari Eropa) dalam memperkenalkan lagu-lagu gerejawi yang digunakan dalam ibadah jemaat yang diadaptasi dari tradisi lama masyarakat Nusa Utara yakni metunjuke (bernyanyi dalam kelompok di mana beberapa orang memimpin lagu sambil berkeliling dan menunjuk-nunjuk seluruh yang hadiri dengan mengikuti irama lagu) atau mebawelase (menyanyi dalam kelompok sambil “berbalas pantun” dengan nyanyian).
Dalam tradisi lama sebelum injil masuk di Sangihe-Talaud, Metunjuke dikenal dengan tiga jenis yaitu: sasambo, kakalumpang dan kakumbaede -- nadanya tidak baku (dengan nada slendro?) karena masyarakat Nusa Utara pra Zending belum mengenal tangga nada atau solmisasi. Kegiatan ini dilakukan ketika melakukan pelayaran panjang sambil berdayung di mana orang-orang para pedayung bernyanyi sampai tiba di tempat tujuan. 


Pada sekitar abad ke-18 para Zending datang untuk memberitakan injil dan memperkenalkan lagu-lagu gerejawi yang digunakan dalam ibadah-ibadah bersama. Ketika menyanyi bersama dalam ibadah ini dilakukan, tidak ada istilah bahasa lokal yang bisa mengistilahkannya. Karena itu, para Zending memberikan istilahnya dengan kata zangvereninging atau juga zang vrij. Karena penyebutan kata asing itu mengalami kendala untuk diucapkan secara benar, maka masyarakat Nusa Utara melafalkannya mengikuti dialek setempat dengan menyebutnya masampere.
Jika akan atau sedang melakukan kegiatan bernyanyi bersama (lagu-lagu gerejawi atau rohani), masyarakat menyebutnya dengan masampere. Dalam perkembangan selanjutnya istilah masampere beradaptasi dengan bahasa Indonesia atau bahasa Manado menjadi masamper. Kemudian juga sejak tahun 1990-an muncul istilah baru yakni pato-pato. Sebutan ini terkait dengan sebuah judul lagu masamper Menondong Pato (melayarkan perahu atau bahtera) yang dibawakan oleh Group Masamper pimpinan Max Galatang dan merupakan album rekaman masamper pertama. Lagu-lagu dari pato-pato berirama gembira sehingga ketika orang mendengarnya akan terangsang untuk berdiri dan menggerakan tubuh sambil bernyanyi mengikuti irama lagu.
Tradisi Masamper pada intinya merupakan ungkapan hati nurani selain memiliki nilai religius dan nilai moral. Selain itu, masamper berisi ajakan, ajaran moral dan ajaran tata cara pergaulan dalam hidup bermasyarakat yang tersirat dalam lirik lagu yang bernuansi syair sastrawi. Bertolak dari nilai-nilai tersebut, maka dalam tiga dekade ini masamper telah diperlombakan, baik oleh kelompok organisasi sosial kemasyarakat maupun organisasi gereja dan kelembagaan lainnya.


Sejarah masamper tidak lepasa dari upaya Zending, dalam hal memperkenalkan lagu-lagu yang digunakan dalam ibadah jemaat. Namun, sebelum injil masuk ke kepulauan sangihe talaud, masamper ini sudah ada dan dikenala dengan nama tunjuke. Tunjuke terdiri dari tiga macam yaitu: sasambo, mekarumpang dan kakumbaede. Menyanyi (bahas sangir : megantare) secara bersama dalam bentuk berkelompok merupakan kegemaran orang sangihe. Misalnya ketika melakukan pelayaran panjang sambil berdayung, orang-orang sangihe pun bernyanyi sampai sampai tiba di tempat tujuan.
Pada abad ke-15 yaitu ± tahun 1565 para Zending datang untuk memberitakan injil dan didalamnya pula memperkenalkan nyanyian-nyanyian rohani yang biasa digunakan dalam ibadah. Pada waktu itu orang-orang sangihe memang sudah gemar menyanyi, walaupun belum mengenal solmisasi.
Bernyanyi secara kelompok ini, oleh para zending disebut zangvereniging (bahasa belanda), yang berarti kelompok menanyi. Oleh karena sebutan ini adalah bahasa asing maka, oleh orang-orang sangihe terlafalkan berdasarkan dialek bahasa sangihe samper. Bila kegemaran bernyanyi bersama ini dilakukan, maka oleh orang-orang sangihe disebut masamper dan dalam perkembangan selanjutnya masamper juga disebut pato pato. Sebutan ini terkait dengan sebuah judul lagu masamper. Pato dalam bahasa sangir berarrti perahu atau bahtera. Lagu pato-pato ini ketika dinyanyikan bisa membuat orang menyanyi atau orang yang mendengarkan terangsang untuk berdiri dan menggerakan tubuh sambil bernyanyi mengikuti irama lagu.

Nilai-nilai yang terkandung dalam masamper
Masamper sarat dengan ungkapan hati nurani selain memiliki nilai religius dan nilai moral, masamper mengjak dan mengajari tata cara pergaulan hidup masyarakat sangihe dan pengajaran itu dirangkaikan dalam syair lagu yang kemudian dinyatakan nyaian baik dalam acara sukaxita maupun dukacita
Masamper meiliki nilai-nilai yang tertanam dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan setiap pribadi pelaku atau peminat kesenian masamper. Nilai-nilai itu adalh:
• Nilai kebenaran
Dikatkan nilai kebenaran karena masamper dapat diterima secara akal sehat manusia sehingga keasliannya tidak tergoyakan
• Nilai keindahan
Nilai keindahan itu bersumber pada perasaan manusia. Budaya masamper merupakan ekspresi dari jiwa masyarakat yang melukiskan tentang perenungan, pengalaman tentang keindahan serta diungkapkan pula kesadaran akan pentingnya kebersamaan dalam masyarakat yang penuh kekeluargaan. Semua itu diungkapkan lewat nyanyian bersama dengan alunan vokal dan gaya bahasa indah serta diperindah lagi dengan ciri khasnya berbalas balasan sehingga asik dipandang, didengar, mapundirasakn
• Nilai moral
Nilai ini juga disebut kebaikan. Dalam hal ini, ketepatan dalam mebalasa lagu merupakan unsur yang paling utama, yaitu setiap nyanyian yang dinyanyikan tidak dinyanyikan sembarangan, melainkan setiap tema lagu dan makna lagu yang dinyanyikan lebih dahulu menjadi patokan untuk nyanyian berikutnya. Oleh karena itu, dalam masamper sangat diperlukan kemampuan mengiterpretasikan lagu yang dinyanyikan, sekaligus menyiapkan lagu agar balasannya tepat sesuai tema dan makna lagu.
• Nilai religius
Yang dimaksudkan di sini adalah nilai kerohanian. Hal ini dilakukan oleh manusia kepada Tuhan sehingga, semua mhluk yang bernafas menyembahnya. selain memiliki nlai kesenian masmper juga mengandung unsur-unsur dan makna tertentu. Unsur-unsur yang dimaksud itu adalah musik atau vokal sebagai alat pengngkapan dan unsur gerak sebagai penunjang dalam pengungkapan pesan atau makna lagu ang dinyanyikan. Sementara itu unsur mebawalase dan unsur ketepatan dalam membalas lagu sebagai suatu proses dialog dan merupakan ciri khas masamper. Hal-hal inilah juga menentukan kelanjutan dari masmper

Dalam perlombaan, jenis-jenis lagu dibagi dalam beberapa kategori seperti:
1. Pertemuan.
2. Pujian kepada Tuhan
3. Perjuangan/peperangan rohani
4. Perjuangan/peperangan badani
5. Percintaan rohani
6. Percintaan badani
7. Cinta-kasih orangtua
8. Sastra (antara lain pelayaran, lingkungan hidup, dan pengajaran/moral)
9. Perpisahan
10. Dll.

Tari Empat Wayer

Tari ini awalnya berasal dari kebiasaan para tentara di Nusa Utara pada jaman raja-raja dahulu. Sebagian prajurit yang berasal dari pulau-pulau kecil, daerah pantai atau memiliki latar belakang keluarga nelayan, disaat melepas lelah mengadakan rekreasi sambil menari dan menyanyi. Dalam kegembiraan ini, gerakan gesit bersemangat khas prajurit bercampur dengan gerakan yang biasa dilakukan nelayan. Kerinduan terhadap kehidupan masa kecil diungkapkan dengan cara menirukan gerakan-gerakan orang melaut. Dengan dipandu seorang Pangataseng, para penari Empat Wayer bergerak berirama mengikuti kebiasaan nelayan saat hendak turun melaut, formasi perahu, gerakan mendayung, serta menggunakan jala dan peralatan menangkap ikan lainnya. Tersirat juga luapan kegembiraan saat membagi hasil tangkapan dan membawa pulang untuk keluarga, sebuah nilai luhur dalam kesahajaan nelayan.



Tari Gunde



Tari gunde berawal dari tari lide, tari lide itu (tari berkelompok) adalah tarian penghantar roh orang yang menjelang mati dalam upacara sundeng. Selanjutnya berinkarnasi menjadi salai (tari tunggal). Setiap penari salai dipilih Raja manganitu untuk menjadi penari istana di istana kerajaan. Lalu tari salai yang dulunya tari tunggal ber reinkarnasi lagi menjadi tari berkelompok.Tari gunde yang dulunya adalah tarian rakyat akhirnya berubah menjadi tarian istana. Awalnya tari gunde hanya di pertunjukan pada saat menerima tamu penting kerajaan. Kemudian menjadi sakral yang menunjukan kesucian seorang wanita sangihe. Pengiring gunde adalah tagonggong yang disertai sambo. Gunde terdiri dari 4 babak berdasarkan urut lagu sasambo. Lagung balang, Sonda, Duruhang dan Sasahola. Pukulan tagonggong terdiri dari 4 macam juga yaitu Tengkele Balang, Tengkele Sonda, Tengkele Duruhang dan Tengkele Sasahola

Makam Raja Santiago

Gerbang Selamat Datang menuju ke Lokasi Makam Raja Santiago. Photo by Stevenly A. Takapaha
Bataha Santiago adalah Raja ke - 3 Kerajaan Manganitu. Makam Raja Santiago Berada di Kampung Nento Kecamatan Manganitu, Makam ini  adalah Bukti Kepahlawanan dari suku Sangihe melawan penjajahan kolonial Belanda. Ukuran makam memiliki  Panjang : 2,50 M dan Lebar : 1,50 M dengan Luas Bangunan Situs : 243 M2 .  Akes menuju Makam ini dari kota Tahuna kita dapat menuju ke Manganitu dari manganitu dapat menggunakan ojek/kendaraan sewa dgn jarak 5 Km atau dengan menggunakan angkutan umum dengan tarif Rp.5.000,-
Santiago adalah Pahlawan Asal Sangihe

Rumah dan Kubur Misionaris


Rumah Misionaris dan Kubur Misionaris sering juga disebut rumah Belanda berada di kecamatan Manganitu

Makam Raja MHP Mocodompis


Makam Raja Manganitu MH. Mocodompis berada di Kampung Barangka Kecamatan Manganitu. MH Mocodompis merupakan Raja ke-15 dari Kerajaan Manganitu yang memerintah sampai Tahun 1880

Makama Raja MH. Mocodompis Photo byStevenly Takapaha 20 Agustus 2017 

Makam Raja Makaampo


Di Kampung Salurang Kecamatan Tabukan Selatan Tengah merupakan cikal bakal lahirnya kerajaan – kerajaan di Bumi Pulau Sangihe Besar ini dengan Kerajaan yang pertama yaitu Kerajaan Tabukan dengan Rajanya yang pertama yaitu Raja Makaampo (1530 - 1575), yang dimakamkan di Pulau Sura.Makam ini terbuat dari batu lapis. Akses menuju tempat ini dari Kota Tahuna dapat menggunakan ojek/kendaraan sewa dengan jarak 45 Km atau dengan menggunakan angkutan umum dengan tarif Rp.27.500,- Selanjutnya perjalanan ke lokasi ODTW dilanjutkan dengan menyusuri pantai dengan waktu tempuh 10 Menit

Mane'e


Di Kampung saluran terdapat budaya menangkap ikan tanpa menggunakan jaring di Kampung Salurang. Budaya ini hanya dilakukan pada bulan Mei dan dilaksanakan setahun sekali