Showing posts with label Wisata Budaya. Show all posts
Showing posts with label Wisata Budaya. Show all posts
Festival Tabadine Sangihe
![]() |
| Festival Tabadine di Kampung Tawoali Tahun 2017 Photo by Stenly Pontolawokang |
![]() |
| Fesrival Tabadine di kampung Bakaleng Tahun 2016 Photo by gemparnews.com |
Tabadine adalah singkatan dari Tawoali Bakalaeng Pedine tiga kampung di kecamatan manganitu yang berdekatan dengan kota Tahuna. Festival Tabadine adalah festival seni dan budaya yang mengangkat budaya lokal masyarakat setempat. isi kegiatan berupa sarasehan, lomba olahraga/permainan tradisional, kreaifitas anak dan pagelaran seni dan budaya. kegiatan ini dimulai pada tahun 2016 dan akan dadakan tiap tahun disetiap penghujung bulan april. (syarta)
![]() |
| Atraksi pawai perahu nelayan di Teluk Tawoali Photo by Vejun Sagemba |
![]() |
| Photo by Vejun Sagemba |
Kerawang Batunderang
![]() |
| Kerajinan Kerawang Khas Batunderang Sangihe |
Kerawang merupakan kerajinan tangan berupa anyaman di kain yang dikerjakan oleh para wanita Batunderang. Mengerawang merupakan kegiatan warisan turun temurun di Batunderang sejak dahulu. Kesenian ini membutuhkan tingkat ketelitian dan ketelatenan yang tinggi. Kerawang Batunderang memiliki kaualitas yang sangat baik sehingga awet dan tahan lama dengan berbagai pemakaian. berbagai komoditas yang dibuat antaralain taplak meja, sprei, sarung bantal dan guling, baju, juga kreasi lain yang dapat dipesan sesuai dengan keinginan. Kerawang Batunderang merupakan satu-satunya di Sangihe dan dapat menjadi pilihan buah tangan khas jika datang di Sangihe
Tanjung Tinumpaeng
![]() |
| Ilustrasi melompat ke Laut [Photo by Kaskus.co.id] |
Disebelah selatan tanjung Kalinda dimana di dalam teluk itu
ada Desa Kalinda, terdapat tanjung yang bernama Tinumpaeng. Tempat itu termasuk
wilayah Kecamatan Tamako Kabupaten Kepulauan Sangihe saat ini. Tanjung tersebut
keadaanya curam, laut dipinggirnya dalam dan tidak mempunyai pantai. Oleh sebab
itu bilamana perahu lewat ditanjung itu, dekat sekali. Terutama disaat laut
teduh.
Adapun asal mulanya nama tanjung tersebut, ikutilah
ceritanya yang diceritakan oleh orang-orang tua secara turun temurun. Pada zaman
dahulu kira-kira abad 16, 17, dan 18 ada kebiasaan dari suku bangsa Mindanau
dan suku bangsa Sulu (Philipina), yaitu mereka sering berlayar didaerah
sekitarnya termasuk pulau Sangihe. Adapun maksud mereka ialah sebagai bajak
laut, yaitu merampok harta benda dari perahu-perahu orang yang ditemuinya. Kalau anak buah perahu yang di temui
mangadakan perlawanan, mereka tidak segan-sagan membunuhnya. Sehingga sering
terjadi pertempuran diantara mereka. Sudah tentu korban terbunuh dan luka-luka
selalu ada diantara kedua belah pihak. Selain itu mereka juga menculik dan
menawan orang-orang yang ditemuinya, baik laki-laki maupun perempuan dengan
maksud dijadikan budak ditempat mereka.
Sekali peristiwa, ada sebuah perahu bajak laut yang melewati
pesisir sebelah Barat pulau Sangihe besar. Perahu bajak laut tersebut masuk dan
menyusur dari bagian utara dan terus menuju ke Selatan. Jadi mereka menyusur
dari pesisir Kendahe, Kolongan, Tahuna dan terus menuju pesisir Manganitu.
Sesudah melewati teluk Manganitu, mereka menyusur agak dekat dengan pantai,
melewati Paghulu, Kauhis, Sesiwung, Lebo, Belengang dan sampai ditanjung
Bulude. Di pesisir antara Paghulu dan Belengang, Bajak laut tersebut berhasil
mengejar dan menangkap seorang nelayan yang sedang mengail sendiri. Nelayan itu
ditangkap dan disuruh duduk ditengah-tengah mereka, supaya tidak gampang
melarikan diri. Kemudian mereka bertanya tentang nama nelayan itu. Nelayan itu
menyahut dan menyebut namanya : “Tabang”.
Sementara Tabang duduk di tengah rombongan bajak laut tersebut, ia tidak begitu takut.
Ia merasa tenang sambil berpikir dengan cara dan tipu muslihat bagaimana ia
dapat melepaskan diri dari cengkraman bajak laut tersebut. Akhirnya ia mendapat
akal, katanya didalam hati, baiklah saya melagukan Dadung (Sasambo); “Tabang
tinumpa, Tabang tinumpa, Tabang tinumpa”. Artinya : “ si Tabang Terjun, si
Tabang terjun, si Tabang terjun”. Dadung (Sasambo) tersebut dilagukan
berkali-kali, sampai kelihatan rombongan bajak laut tersebut merasa jenuh dan
tidak memperhatikan dia lagi.
Kira-kira sementara melewati tanjung Bulude, ia mulai
melagukan Dadung (Sasambo) tersebut ; “Tabang tinumpa, Tabang tinumpa, Tabang
tinumpa”. Setelah selesai melagukan pertama kali, ia berhenti sejenak. Perahu
bajak laut tersebut terus meluncur ke selatan melewati teluk Barangkalang,
tanjung Lelapide. Sementara itu si Tabang sudah 2 atau 3 kali melagukan Dadaung
(Sasambo) yang syairnya tetap itu juga. Kemudian mereka melewati teluk Nagha
II, tanjung Kapehetang dan masuk ke teluk Tamako. Si Tabang tetap melagukan
Dadung (Sasambo) dengan nada naik turun dan suaranya yang merdu. Kelihatan
rombongan bajak laut sudah kurang memperhatikan si Tabang, sebab menurut
perkiraan mereka bahwa itu sudah menjadi kebiasaan si Tabang.
Dari teluk Tamako mereka melalui tanjung Hesang, tanjung
Sahang dan terus memasuki teluk Kalinda. Sementara itu si Tabang dengan teliti
melihat tempat tanjung mana ia dapat dengan segera terjun, lalu menyelam ke
darat dan langsung melarian diri. Sekarang mereka makin mendekati tanjung
Tinumpaeng tersebut, lepas dari teluk Kalinda yang agak lebar tersebut melewati
tanjung Bolang lalu mendekati tanjung Tinumpaeng tersebut. Melalui tanjung itu,
perahu mereka sangat dekat dengan pinggir tanjung, sebab air lautnya dalam,
apalagi waktu itu cuacanya baik dan lautnya teduh. Sementara hendak melalui
tanjung itu, si Tabang kembali melagukan Dadung atau Sasambonya dan tepat
dipertengahan tanjung itu, si Tabang secepat petir terjun ke laut, lalu dengan
cepat menyelam ke pinggir tanjung dan terus naik ke tanjung. Kemudian ia
memegang pohon pandan yang ada di atas/pinggir hutan dan terus masuk ke dalam
hutan.
Rombongan bajak laut itu sampai terkejut, tetapi mereka
tidak dapat berbuat apa-apa, sambil melihat si Tabang dengan cepat naik ke
tanjung dan masuk kedalam hutan. Kemudian perahu bajak laut itu terus menuju ke
Selatan, dan meneruskan maksud dan tujuan mereka.
Si Tabang segera melewati perkampungan seperti Kalinda,
Menggawa, dan seterusnya untuk kembali ke tempat tinggalnya. Ditengah jalan ia selalu
ditanyai orang-orang yang di temuinya, dari mana ia berjalan tergesa-gesa itu.
Ia menceritakan peristiwa penculikan bajak laut atas dirinya, namun ia dapat
terjun dan menyelam dan naik di tanjung yang punggirnya curam itu.
Sejak peristiwa itu
sampai sekarang ini penduduk sekitarnya, menamai dan menyebut tanjung itu
“Tanjung Tinumpaeng” yang artinya “tempat terjun”.
(2007. sumber : Renesius
Timbul)
Tari Salo
Salo/Sumalo adalah nama tari tertua di daerah Nusa Utara (Sangihe),
lahir pada permulaan abad ke 14, berasal dari
Masamper
Kata Masamper berasal
dari kata zangvereniging (bahasa belanda), yang berarti paduan suara
masyarakat. Ada juga yang menyebutnya berasal dari kata zang vrij yang
berarti menyanyi bebas. Tradisi ini adalah bagian dari budaya masyarakat etnis
Sangihe-Talaud. Keberadaannya tidak lepas dari proses penginjilan yang
dilakukan oleh para Zending (misionaris Kristen dari Eropa) dalam
memperkenalkan lagu-lagu gerejawi yang digunakan dalam ibadah jemaat yang
diadaptasi dari tradisi lama masyarakat Nusa Utara yakni metunjuke
(bernyanyi dalam kelompok di mana beberapa orang memimpin lagu sambil
berkeliling dan menunjuk-nunjuk seluruh yang hadiri dengan mengikuti irama
lagu) atau mebawelase (menyanyi dalam kelompok sambil “berbalas pantun” dengan
nyanyian). Dalam tradisi lama sebelum injil masuk di Sangihe-Talaud, Metunjuke dikenal dengan tiga jenis yaitu: sasambo, kakalumpang dan kakumbaede -- nadanya tidak baku (dengan nada slendro?) karena masyarakat Nusa Utara pra Zending belum mengenal tangga nada atau solmisasi. Kegiatan ini dilakukan ketika melakukan pelayaran panjang sambil berdayung di mana orang-orang para pedayung bernyanyi sampai tiba di tempat tujuan.
Jika akan atau sedang melakukan kegiatan bernyanyi bersama (lagu-lagu gerejawi atau rohani), masyarakat menyebutnya dengan masampere. Dalam perkembangan selanjutnya istilah masampere beradaptasi dengan bahasa Indonesia atau bahasa Manado menjadi masamper. Kemudian juga sejak tahun 1990-an muncul istilah baru yakni pato-pato. Sebutan ini terkait dengan sebuah judul lagu masamper Menondong Pato (melayarkan perahu atau bahtera) yang dibawakan oleh Group Masamper pimpinan Max Galatang dan merupakan album rekaman masamper pertama. Lagu-lagu dari pato-pato berirama gembira sehingga ketika orang mendengarnya akan terangsang untuk berdiri dan menggerakan tubuh sambil bernyanyi mengikuti irama lagu.
Tradisi Masamper pada intinya merupakan ungkapan hati nurani selain memiliki nilai religius dan nilai moral. Selain itu, masamper berisi ajakan, ajaran moral dan ajaran tata cara pergaulan dalam hidup bermasyarakat yang tersirat dalam lirik lagu yang bernuansi syair sastrawi. Bertolak dari nilai-nilai tersebut, maka dalam tiga dekade ini masamper telah diperlombakan, baik oleh kelompok organisasi sosial kemasyarakat maupun organisasi gereja dan kelembagaan lainnya.
Sejarah masamper tidak
lepasa dari upaya Zending, dalam hal memperkenalkan lagu-lagu yang digunakan
dalam ibadah jemaat. Namun, sebelum injil masuk ke kepulauan sangihe talaud,
masamper ini sudah ada dan dikenala dengan nama tunjuke. Tunjuke terdiri dari
tiga macam yaitu: sasambo, mekarumpang dan kakumbaede. Menyanyi (bahas sangir :
megantare) secara bersama dalam bentuk berkelompok merupakan kegemaran orang
sangihe. Misalnya ketika melakukan pelayaran panjang sambil berdayung,
orang-orang sangihe pun bernyanyi sampai sampai tiba di tempat tujuan.
Pada abad ke-15 yaitu ± tahun 1565 para Zending datang untuk memberitakan injil dan didalamnya pula memperkenalkan nyanyian-nyanyian rohani yang biasa digunakan dalam ibadah. Pada waktu itu orang-orang sangihe memang sudah gemar menyanyi, walaupun belum mengenal solmisasi.
Bernyanyi secara kelompok ini, oleh para zending disebut zangvereniging (bahasa belanda), yang berarti kelompok menanyi. Oleh karena sebutan ini adalah bahasa asing maka, oleh orang-orang sangihe terlafalkan berdasarkan dialek bahasa sangihe samper. Bila kegemaran bernyanyi bersama ini dilakukan, maka oleh orang-orang sangihe disebut masamper dan dalam perkembangan selanjutnya masamper juga disebut pato pato. Sebutan ini terkait dengan sebuah judul lagu masamper. Pato dalam bahasa sangir berarrti perahu atau bahtera. Lagu pato-pato ini ketika dinyanyikan bisa membuat orang menyanyi atau orang yang mendengarkan terangsang untuk berdiri dan menggerakan tubuh sambil bernyanyi mengikuti irama lagu.
Nilai-nilai yang terkandung dalam masamper
Masamper sarat dengan ungkapan hati nurani selain memiliki nilai religius dan nilai moral, masamper mengjak dan mengajari tata cara pergaulan hidup masyarakat sangihe dan pengajaran itu dirangkaikan dalam syair lagu yang kemudian dinyatakan nyaian baik dalam acara sukaxita maupun dukacita
Masamper meiliki nilai-nilai yang tertanam dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan setiap pribadi pelaku atau peminat kesenian masamper. Nilai-nilai itu adalh:
• Nilai kebenaran
Dikatkan nilai kebenaran karena masamper dapat diterima secara akal sehat manusia sehingga keasliannya tidak tergoyakan
• Nilai keindahan
Nilai keindahan itu bersumber pada perasaan manusia. Budaya masamper merupakan ekspresi dari jiwa masyarakat yang melukiskan tentang perenungan, pengalaman tentang keindahan serta diungkapkan pula kesadaran akan pentingnya kebersamaan dalam masyarakat yang penuh kekeluargaan. Semua itu diungkapkan lewat nyanyian bersama dengan alunan vokal dan gaya bahasa indah serta diperindah lagi dengan ciri khasnya berbalas balasan sehingga asik dipandang, didengar, mapundirasakn
• Nilai moral
Nilai ini juga disebut kebaikan. Dalam hal ini, ketepatan dalam mebalasa lagu merupakan unsur yang paling utama, yaitu setiap nyanyian yang dinyanyikan tidak dinyanyikan sembarangan, melainkan setiap tema lagu dan makna lagu yang dinyanyikan lebih dahulu menjadi patokan untuk nyanyian berikutnya. Oleh karena itu, dalam masamper sangat diperlukan kemampuan mengiterpretasikan lagu yang dinyanyikan, sekaligus menyiapkan lagu agar balasannya tepat sesuai tema dan makna lagu.
• Nilai religius
Yang dimaksudkan di sini adalah nilai kerohanian. Hal ini dilakukan oleh manusia kepada Tuhan sehingga, semua mhluk yang bernafas menyembahnya. selain memiliki nlai kesenian masmper juga mengandung unsur-unsur dan makna tertentu. Unsur-unsur yang dimaksud itu adalah musik atau vokal sebagai alat pengngkapan dan unsur gerak sebagai penunjang dalam pengungkapan pesan atau makna lagu ang dinyanyikan. Sementara itu unsur mebawalase dan unsur ketepatan dalam membalas lagu sebagai suatu proses dialog dan merupakan ciri khas masamper. Hal-hal inilah juga menentukan kelanjutan dari masmper
Pada abad ke-15 yaitu ± tahun 1565 para Zending datang untuk memberitakan injil dan didalamnya pula memperkenalkan nyanyian-nyanyian rohani yang biasa digunakan dalam ibadah. Pada waktu itu orang-orang sangihe memang sudah gemar menyanyi, walaupun belum mengenal solmisasi.
Bernyanyi secara kelompok ini, oleh para zending disebut zangvereniging (bahasa belanda), yang berarti kelompok menanyi. Oleh karena sebutan ini adalah bahasa asing maka, oleh orang-orang sangihe terlafalkan berdasarkan dialek bahasa sangihe samper. Bila kegemaran bernyanyi bersama ini dilakukan, maka oleh orang-orang sangihe disebut masamper dan dalam perkembangan selanjutnya masamper juga disebut pato pato. Sebutan ini terkait dengan sebuah judul lagu masamper. Pato dalam bahasa sangir berarrti perahu atau bahtera. Lagu pato-pato ini ketika dinyanyikan bisa membuat orang menyanyi atau orang yang mendengarkan terangsang untuk berdiri dan menggerakan tubuh sambil bernyanyi mengikuti irama lagu.
Nilai-nilai yang terkandung dalam masamper
Masamper sarat dengan ungkapan hati nurani selain memiliki nilai religius dan nilai moral, masamper mengjak dan mengajari tata cara pergaulan hidup masyarakat sangihe dan pengajaran itu dirangkaikan dalam syair lagu yang kemudian dinyatakan nyaian baik dalam acara sukaxita maupun dukacita
Masamper meiliki nilai-nilai yang tertanam dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan setiap pribadi pelaku atau peminat kesenian masamper. Nilai-nilai itu adalh:
• Nilai kebenaran
Dikatkan nilai kebenaran karena masamper dapat diterima secara akal sehat manusia sehingga keasliannya tidak tergoyakan
• Nilai keindahan
Nilai keindahan itu bersumber pada perasaan manusia. Budaya masamper merupakan ekspresi dari jiwa masyarakat yang melukiskan tentang perenungan, pengalaman tentang keindahan serta diungkapkan pula kesadaran akan pentingnya kebersamaan dalam masyarakat yang penuh kekeluargaan. Semua itu diungkapkan lewat nyanyian bersama dengan alunan vokal dan gaya bahasa indah serta diperindah lagi dengan ciri khasnya berbalas balasan sehingga asik dipandang, didengar, mapundirasakn
• Nilai moral
Nilai ini juga disebut kebaikan. Dalam hal ini, ketepatan dalam mebalasa lagu merupakan unsur yang paling utama, yaitu setiap nyanyian yang dinyanyikan tidak dinyanyikan sembarangan, melainkan setiap tema lagu dan makna lagu yang dinyanyikan lebih dahulu menjadi patokan untuk nyanyian berikutnya. Oleh karena itu, dalam masamper sangat diperlukan kemampuan mengiterpretasikan lagu yang dinyanyikan, sekaligus menyiapkan lagu agar balasannya tepat sesuai tema dan makna lagu.
• Nilai religius
Yang dimaksudkan di sini adalah nilai kerohanian. Hal ini dilakukan oleh manusia kepada Tuhan sehingga, semua mhluk yang bernafas menyembahnya. selain memiliki nlai kesenian masmper juga mengandung unsur-unsur dan makna tertentu. Unsur-unsur yang dimaksud itu adalah musik atau vokal sebagai alat pengngkapan dan unsur gerak sebagai penunjang dalam pengungkapan pesan atau makna lagu ang dinyanyikan. Sementara itu unsur mebawalase dan unsur ketepatan dalam membalas lagu sebagai suatu proses dialog dan merupakan ciri khas masamper. Hal-hal inilah juga menentukan kelanjutan dari masmper
Dalam perlombaan,
jenis-jenis lagu dibagi dalam beberapa kategori seperti:
1. Pertemuan.
2. Pujian kepada Tuhan
3. Perjuangan/peperangan rohani
4. Perjuangan/peperangan badani
5. Percintaan rohani
6. Percintaan badani
7. Cinta-kasih orangtua
8. Sastra (antara lain pelayaran, lingkungan hidup, dan pengajaran/moral)
9. Perpisahan
10. Dll.
1. Pertemuan.
2. Pujian kepada Tuhan
3. Perjuangan/peperangan rohani
4. Perjuangan/peperangan badani
5. Percintaan rohani
6. Percintaan badani
7. Cinta-kasih orangtua
8. Sastra (antara lain pelayaran, lingkungan hidup, dan pengajaran/moral)
9. Perpisahan
10. Dll.
Tari Empat Wayer
Tari ini awalnya berasal dari kebiasaan para tentara di Nusa Utara pada
jaman raja-raja dahulu. Sebagian prajurit yang berasal dari pulau-pulau
kecil, daerah
pantai atau memiliki latar belakang keluarga nelayan, disaat melepas
lelah mengadakan rekreasi sambil menari dan menyanyi. Dalam kegembiraan
ini, gerakan gesit bersemangat khas prajurit bercampur
dengan gerakan yang biasa dilakukan nelayan. Kerinduan terhadap
kehidupan masa kecil diungkapkan dengan cara menirukan gerakan-gerakan
orang melaut. Dengan dipandu seorang Pangataseng, para penari Empat
Wayer bergerak berirama mengikuti kebiasaan nelayan saat hendak turun
melaut, formasi perahu, gerakan mendayung, serta menggunakan jala dan
peralatan menangkap ikan lainnya. Tersirat juga luapan kegembiraan saat
membagi hasil tangkapan dan membawa pulang untuk keluarga, sebuah nilai
luhur dalam kesahajaan nelayan.
Tari Gunde
Tari gunde berawal dari tari lide, tari lide itu (tari berkelompok)
adalah tarian penghantar roh orang yang menjelang mati dalam upacara
sundeng. Selanjutnya berinkarnasi menjadi salai (tari tunggal). Setiap
penari salai dipilih Raja manganitu untuk menjadi penari istana di
istana kerajaan. Lalu tari salai yang dulunya tari tunggal ber reinkarnasi lagi menjadi tari berkelompok.Tari gunde yang dulunya adalah
tarian rakyat akhirnya berubah menjadi tarian istana. Awalnya tari
gunde hanya di pertunjukan pada saat menerima tamu penting kerajaan.
Kemudian menjadi sakral yang menunjukan kesucian seorang wanita sangihe.
Pengiring gunde adalah tagonggong yang disertai sambo. Gunde terdiri
dari 4 babak berdasarkan urut lagu sasambo. Lagung
balang, Sonda, Duruhang dan Sasahola. Pukulan tagonggong terdiri dari 4
macam juga yaitu Tengkele Balang, Tengkele Sonda, Tengkele Duruhang
dan Tengkele Sasahola
Makam Raja Santiago
| Gerbang Selamat Datang menuju ke Lokasi Makam Raja Santiago. Photo by Stevenly A. Takapaha |
Bataha Santiago adalah Raja ke - 3 Kerajaan Manganitu. Makam Raja Santiago Berada di Kampung Nento Kecamatan Manganitu, Makam ini adalah Bukti Kepahlawanan dari suku Sangihe melawan penjajahan kolonial Belanda. Ukuran makam memiliki Panjang : 2,50 M dan Lebar : 1,50 M dengan Luas Bangunan Situs : 243 M2 . Akes menuju Makam ini dari kota Tahuna kita dapat menuju ke Manganitu dari manganitu dapat menggunakan ojek/kendaraan sewa dgn jarak 5 Km atau dengan menggunakan angkutan umum dengan tarif Rp.5.000,-
| Santiago adalah Pahlawan Asal Sangihe |
Rumah dan Kubur Misionaris
Rumah Misionaris dan Kubur Misionaris sering juga disebut rumah Belanda berada di kecamatan Manganitu
Makam Raja Makaampo

Di Kampung Salurang Kecamatan Tabukan Selatan Tengah merupakan cikal bakal lahirnya kerajaan – kerajaan di Bumi Pulau Sangihe Besar ini dengan Kerajaan yang pertama yaitu Kerajaan Tabukan dengan Rajanya yang pertama yaitu Raja Makaampo (1530 - 1575), yang dimakamkan di Pulau Sura.Makam ini terbuat dari batu lapis. Akses menuju tempat ini dari Kota Tahuna dapat menggunakan ojek/kendaraan sewa dengan jarak 45 Km atau dengan menggunakan angkutan umum dengan tarif Rp.27.500,- Selanjutnya perjalanan ke lokasi ODTW dilanjutkan dengan menyusuri pantai dengan waktu tempuh 10 Menit
Mane'e
Di Kampung saluran terdapat budaya menangkap ikan tanpa menggunakan jaring di Kampung Salurang. Budaya ini hanya dilakukan pada bulan Mei dan dilaksanakan setahun sekali































